Kultur Daerah sebagai Jawaban


Sejarah kebudayaan Indonesia teramat kaya bahkan mengandung nilai sosial masyarakat yang tak ada habisnya sebagai pengingat keadaan diamana kita hidup dari masa ke masa.

Entah apa yang ada dalam pemikiran orang-orang zaman dahulu sehingga mampu mencetuskan gagasan yang brilliant namun mengandung esensi dan filosofis yang istimewa. Disadari atau tidak penyampaian yang syarat akan makna mendalam ini dilakukan dengan bahasa halus dan penuh dengan penafsiran mendalam. Sehingga proses yang dilakukan mampu menyasar pada tataran pimpinan negari ini bahkan mampu diterima oleh kalangan masyarakat terbawah.

Namun dari balik keistemewaan tersebut masih banyak tugas yang harus dibuktikan. Penafsiran arti yang disampaikan melalui cara mereka perlu dipecahkan sehingga maksud dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Tidak mudah memang, tapi ini adalah bagian dari suatu jalan menuju kesuksesan bersama.

Melihat dari banyaknya budaya, sosial dan kultur masyarakat yang kita miliki tidak mungkin kita membahas dan menafsir apalagi sampai menerapkannya secara keseluruhan. Fakta membuktikan kultur jawa mempunyai banyak corak filosofis tersebut. Diantaranya wayang, lagu daerah dan masih banyak yang lainnya.

Salah satu kultur yang dimiliki adalah lagu daerah yang berjudul “gundul-gundul pacul”. Siapa tahu ada manfaatnya lagu rakyat kisah tentang gundul pacul ini bagi anda. Gundul itu botak. Pacul itu cangkul. Tak ada kaitan literer antara gundul dengan pacul dalam idiom jawa gundul pacul. Itu peng-enak-an bunyi belaka. Tak perlu ditafsirkan bahwa kepala kita menjadi botak sesudah dicangkuli oleh tetangga.

Gundul pacul mungkin menggambarkan karakterisasi anak, pemuda, atau manusia tertentu, memalui mata pandang dan rasa budaya jawa. Gundul pacul adalah anak yang nakal pol, mbethik, mbeling, susah diatur,  berlaku seenaknya sendiri. Intinya, punya bakat dan naluri anarkisme yang serius.

“gundul gundul pacul cul, gemelelengan.....”. nakal tapi sok benar. Tak mau belajar tapi sok pandai. Kelakuannya seenaknya tapi sok suci. Tak punya apa-apa tapi gemelelengan, berlagak petentang-petenteng. Tak becus menjadi pemerintah tapi tak punya rasa malu. Tak mampu berbuat apa-apa, bahkan menyusun kalimat sajapun tak lancar, tapi wajahnya tegak dan malah merasa bangga.

Sudah terbukti tak punya kemampuan managerial  mengurusi umat, tapi merasa pantas dicium tangannya. Sudah jelas kerjanya hanya berkonsentrasi menghimpun sogokan-sogokan uang, tapi tetap meyakini bahwa dirinya adalah wakil rakyat.

Yang tak benar-benar mengerti agama, sangat canggih memperdagangkan agama. Yang mengerti agama malah bersedia jadi budak dari pedagang agama. Yang pelawak dan penyinden yakin bahwa merekalah presenter utama pekerjaan dakwah, sementara yang kiai dan ulama’ bersedia menjadi praktiknya pelawak dan penyinden di lapangan dakwah.

Yang baik moralnya, bodoh otaknya. Yang pandai akalnya , jahat hatinya.  Yang mampu intelektualnya tak mampu bekerja. Yang sanggup bekerja, tidak mau belajar. Reformasi berlangsung sampai busuk sebusuk-busuknya, sampai tak terhitung  jauhnya melampaui kebusukan-kebusukan yang pernah dicapai oleh sejarah bangsa ini, tapi tak seorangpun siap ambil oper menanggung malu moral, malu mental, malu intelektual, apalagi malu spiritual. Dasar gemelelengan! Cengengesan !.

Kalimat berikutnya adalah nyunggi nyunggi wakul kul, gemelelengan.......’’.

Nyunggi  adalah membawa sesuatu dengan meletakkannya di atas kepala. Yang disunggi adalah wakul. Bakul tempat nasi. Nasi adalah amanat kesejahteraan rakyat, kepercayaan sangat mahal  untuk menciptakan masyarakat adil makmur. Bakul adalah otoritas, legalitas dan legitimasi kepemerintahan, yang ditempuh dan dipersembahakan oleh rakyat, dengan biaya yang sangat mahal : uang raksasa jumlahnya, perpecahan massa , nyawa-nyawa melayang, kebodohan berkepanjangan dan ketidak sungguhan hidup bernegara dan berbangsa yang bertele-tele.

Bakul tempat nasi itu tak sekedar ditenteng dengan tangan, apalagi ditaruh dalam ransel ditaruh dalam ransel belakang punggung. Amanat itu sedemikian tinggi dan sakral maknanya sehingga ditaruh di atas kepala. Ditaruh di lapisan harkat yang lebih tinggi dari kepala individu kita sendiri. Diposisikan pada derajat yang lebih mulia dibanding kepentingan diri sendiri, golongan dan apapun saja dalam skala kehidupan berbangsa dan bernegara. Nyunggi wakul itu pekerjaan paling mulia. Dan dalam pekerjaan nyunggi wakul itu kita tetap saja bertindak gemelelengan, berlagak-lagak, tidak sungguh-sungguh, akting sana-sini, palsu luar-palsu dalam, folling arround, kemarin, hari ini dan besok. Politik kita permainkan. Kesakralan kata ”rakyat” kita manipulasikan. Moral dan nurani kita remehkan. Agama kita akali. Tuhan kita tipu.

Akhirnya- ‘‘wakul ngglempang, segane dadi sak latar......’’

Bakul amanat kesejahteraan rakyat itu terjatuh dari kepala kita, tercampak di tanah, nasinya tumpah dan berceceran di halaman negeri indah ini. Seharusnya padi di tumbuh kembangkan, nasi di distribusikan dalam keadilan. Tapi ini tumpah dan berceceran.

Tampaknya ternyata gundul pacul itu adalah kita sendiri, foolling arround, cengengesan.(S)

Agil Muthomthom
Mahasiswa Syari’ah Semester II
INISNU Jepara
0 Komentar untuk "Kultur Daerah sebagai Jawaban"

Back To Top