Mengais Kemandirian diatas Kegelisahan

UNISNU, LPM Bursa-Salam sejahtera bagi kita semua selaku mahluk yang berfikir. Tak lupa rasa syukur kami kepada tuhan YME dengan kata Alhamdulillah, shalawat serta salam kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammmad SAW. Sebagai pejuang kaum tertindas, sebagai pengangkat derajat wanita, sang feminisme. Seorang motifatoris sepanjang masa dan tak akan habis hingga dunia sirna. Tiada kata yang bisa mewakili rasa syukur bahagia atas segala hidayah inspirasi yang menuntun kami dalam penyelesaian berkarya. Shima edisi XII hadir sebagai pemuas dahaga para pembaca, walaupun dengan kebiasaan lama selalu muncul “telat”, namun komitmen kami dan dorongan dari berbagai pihak, pembaca yang setia menantikan kehadiran SHIMA tidak akan kami sia-siakan begitu saja.
 
Rasa malas yang selalu menyelimuti redaksi menjadi masalah yang paling mendasar bagi kami. Entah apa penyebabnya redaksi kurang begitu memahami secara kompleks sifat alamiah itu. Redaksi berjalan seperti kendaraan tanpa driver (pengemudi). Namun hal itu semua yang menjadikan kami lebih bertambah kemandirian dalam berkarya. Tanpa adanya install ulang dari para alumni kami berjalan dengan segala kekurangan yang ada. Akan tetapi redaksi sadar bahwa keadaan ini membutuhkan sebuah gerakan yang cepat dan tepat tanpa mengandalkan sebuah pionir. Motivasi diri dan berjalan menghadapi segala rintangan yang menjadikan motivasi bagi redaksi untuk menuntaskan karya ini.
 
Ucapan terimaksih kepada semua rekan-rekan tim redaksi BURSA yang selalu bersemangat ditengah kegalauan redaksi, juga semua pihak yang selalu mendukung kesolidan redaksi. Terlepas dari itu semua redaksi yakin kepada semua tim, masih mempunyai komitmen yang besar untuk keberlangsungan masa depan majalah Shima, walaupun dengan metode yang berbeda. Kebersamaan yang sangat lama bahkan bertahun-tahun menjadikan dasar redaksi meyakinkan atas komitmen tersebut.
 
Dalam majalah, redaksi mengangkat isu yang fenomenal dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali media yang mewacanakan hak-hak manusia akan tetapi tak ada tindakan yang riil. Bahkan sampai kapanpun isu ini akan selalu hanggat diwacakan dan menjadi isu yang sentral. Tak sedikit kasus kekerasan terjadi, yang lebih mengagetkan bahwa tindak kekerasan bukan hanya terjadi di daerah terpencil, melainkan di tempat-tempat politik pun kerap terjadi. Ketertindasan kaum perempuan atas laki-laki, memebuat mereka sadar bahwa hak mereka dikebiri, namun kesadaran itu hanya sebatas wacana dimana pada realitanya masih sedikit sekali kaum perempuan yang berperan di bagian yang sentral. Berawal dari semua kami mencoba membahas seringan mungkin dalam pelbagai rubrikasi yang sebelumnya telah kami tentukan.
 
 Redaksi menguraikan secara global namun ada rubrikasi yang kami sajikan secara khusus, dan kami mencoba menyajikan apa yang terjadi dibalik jeruji, banyak kasus penjualan seks dalam rutan, yang kiranya ini menjadi lebih menarik dan mengugah rasa penasaran kita. Tulisan ini akan semakin menarik, ketika rubrikasi yang disediakan ditulis oleh mereka yang berkuasa di Fakultas Syari’ah saat ini, dalam hal ini ditulis oleh pembantu dekan satu.
 
Banyaknya kebudayaan yang selalu dicurigai dan dikambing hitamkan kami sajikan dalam rubrikasi budaya dengan gaya penulis yang cukup menarik untuk dibaca. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama, kami sebagai jurnalis dan lembaga pers mahasiswa dengan media yang subyektif dan sekontruktif  mungkin dalam penyuguhan berita.
 
Akhirnya, redaksi meminta maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dan keterlambatan ini. Semoga secarik tulisan ini mampu menjadi motivasi kita untuk selalu menghargai sesama, dan menjadi obat dahaga akan informasi para pembaca yang budiman. Sekian dan selamat membaca !!

0 Komentar untuk "Mengais Kemandirian diatas Kegelisahan"

Back To Top