Menyingkap Tirai Illahi

Hidup adalah perjalanan mahluk, tak ubahnya seperti air hujan yang turun dari langit, membasahi bumi dan mengalir sampai kelaut, air tak punya pilihan menolak apapun yang mengikuti. Seperti harus membawa kotoran dan mengusung sampah-sampah (M. Hizboel Wathony Ibrahim).

Dalam mengarungi samudra kehidupan di dunia, manusia senantiasa di hadapkan pada persoalan-persoalan, entah itu persoalan yang menyayat hati, membelit jiwa atau pun sebaliknya. Persoalan itu dating silih berganti, dari segala arah. Baik dari arah lahir maupun batin. Allah memberikan cobaan kepada hambanya tidak hanya dengan hal yang berupa penderitaan, tetapi juga dengan hal yang berupa kebahagiaan (anugrah). cobaan yang berupa anugrah, tidak kalah gawatnya dengan cobaan yang berupa penderitaan, orang kaya di uji oleh Allah kebakhilannya, kesombongannya, dan membanggakan dirinya, sedangkan orang miskin di uji kejujurannya, kesabarannya, ketabahannya dan lain sebagainya. Seperti yang termaktub dalam surat  Al-anbiya’ ayat 35, “kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).

Setiap peristiwa yang menghampiri hidup seseorang, tentunya tidak lepas dari sekenario hidup yang telah di tulis Allah SWT. Makadari itu, ketika kita di dholimi, di dustaidan di sakitioleh orang lain, baiknya kita secepat mungkin mengambil sikap segera mungkin memaafkannya, karena apa yang dialakukan adalah atas kehendak Allah SWT, meskipun sulit untuk melupakan apa yang telah dia perbuat kepada kita, karena sulit melupakan itu manusiawi, bahkan perlu untuk diingat, sebagai acuan kita untuk kedepannya agar lebih waspada dan tidak terulang kembali.

Mengenai sekenario Allah, tidak ada mahluk satupun yang dapat merubah atau menghindarinya, karena itu sudah menjadi ketetapan-Nya. Jika seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah) tidak melihat dan memaknai kehidupan sesuai dengan alur kehendak Allah, maka tidak menutup kemungkinan seorang “salik” terjerumus kedalam perbuatan syirik dan amal perbuatan yang jauh dari ikhlas. Jalan untuk meraih keselamatan dunia ahirat adalah dengan memegang erat aqidah tauhid dan syuhud (penyaksian) bahwa semua adalah kehendak Allah. Maka dari itu, saya akan mengajak anda untuk memahami lebih mendalam tentang “hijab”, dan menyibaknya. Karena hijab adalah penghalang kita untuk memandang-Nya sehingga kita sulit untuk sampai kepada-Nya.

  • ISTILAH HIJAB
Menurut bahasa, hijab berarti tirai atau pemisah, hijab berasal dari fi’il madli” ha ja ba” yang di terjemahkan dengan “menutup, menyendirikan, memasang tirai, menyembunyikan hingga memakai topeng”. Hijab dalam perkembangan maknanya, menjadi satu istilah untuk pakaian wanita yang menutupi aurat, dalam tradisi masyarakat islam Indonesia, istilah hijab lebih sering di gunakan hanya untuk memisahkan ruangan, hususnya antara laki-laki dan perempuan agar Tidak saling bertatap muka. Sedangkan hijab dalam pengertian penutup aurat diindinesia biasa di sebut dengan kerudung atau jilbab. Kedua pengertian tersebut, sama-sama memiliki makna hijab yaitu penutup atau penghalang.
  • MEMAHAMI HIJAB
Dalam konteks ini saya akan mengajak anda untuk memahami “hijab” dari sudut pandang tasawuf. Menurut para ulama tasawuf, hijab di artikan tirai yang  mendindingi antara hamba dengan Allah, sehingga seorang hamba menjadi terhalang memandang-Nya bahkan sulit untuk sampai kepada-Nya, dalam hal ini Syeh Abdul Qodir Al-Jaelani ra, mengartikan hijab sebagai “tabir yang menutupi pandangan atau penglihatan manusia”, secara spesifik hijab yang di maksud adalah menutupi pandangan matahati. Artinya, apabila hijab menyelimuti hati seseorang, maka matahatinya menjadi buta, dan ketika matahatinya buta, tidak menutup kemungkinan dia akan tersesat dari jalan menuju-Nya, penyebab buta matahati seseorang adalah karena mengikuti hawa nafsu dan kebodohannya. Karenaitu, tidak sedikit orang yang buta matahatinya, meskipun secara fisik terlihat sehat, religious dan memiliki kecerdasan intelektual, seperti para koruptor dan ustad cabul.

Menyingkap hijab menjadi suatu keharusan, karena semua manusia hakikatnya berjalan menuju Allah, menyingkap hijab tidaklah mudah, bagaikan mengupas kulit bawang, setelah satu hijab terbuka, ternyata masih ada lapisan lain yang belum terbuka. Untuk itu, di butuhkan ketangguhan iman dan ilmu agar dapat menyibak hijab, sehingga selamat sampai di pangkuan-Nya.

Ada beberapa factor yang dapat menghijabi seorang hamba kepada tuhan-Nya, yaitu syahwat dunia dan syahwat ruhani, dua syahwat tersebut berpotensi menghijabi seseorang menuju tuhannya. Syahwat duniawi adalah rasa cinta yang berujung ingin memiliki dan menguasai apa saja yang ada di sekeliling kehidupannya. Akibatnya, seluruh ruang hatinya di penuhi oleh rasa cinta kepada benda ataupu nmahluk, sehingga lupa kepada sang khaliq (Allah). Rasa cinta kepada istri, suami, anak, harta dan lain sebagainya, sedangkan syahwat ruhani adalah bersifat kenikmatan ahirat,  termasuk di dalamnya keinginan untuk mendapatkan rahasia-rahasia yang ada di wilayah ruhaniyah. Seperti mendambakan derajat ruhani yang tinggi sampai ma’rifat, mendapat anugrah keluar masuk alam jin, menjadi waliyullah yang bisa bertamasya ke Makkah walaupun raga tetap di rumah, dan lain sebagainya. Semua keinginan tersebut ,sekalipun baik maksudnya namun bisa menjadi hijab bagi seorang “salik”, Karena keinginan tersebut muncul dari syahwat yang tersembunyi, hal itu juga dapat memalingkan seseorang yang sedang menuju Allah. 

Perjuangan untuk mengenal atau berjumpa dengan Allah tidaklah mudah, maka dari itu, Allah sengaja menciptakan hijab supaya orang yang berjalan menuju kepada-Nya melakukan perjuangan menyingkap hijab. Sehingga kualitas keimanan dan keyakinan seorang salik teruji.

Ungkapan di atas menyiratkan betapa sulitnya proses menyingkap hijab dalam perjalanan menuju sang khaliq, karena hijab itu sendiri pada hakikatnya tidak berwujud, karena tidak ada wujud apapun selain wujud Allah sebagaimana Syeh Ibn ‘Athoillah menyatakan“ dan salah satu yang menunjukkan wujud ke-Maha perkasaan Allah adalah terhijabnya kamu oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada wujudnya.

Para ‘Arif billah telah sepakat bahwasannya sesuatu selain Allah hakikatnya ‘Adam mahdhi. Artinya tidak ada wujud yang berdiri dengan sendirinya, apabila menganggap ada wujud yang berdiri sendiri  selain wujud Allah, berarti orang tersebut  telah terjebak pada syirik dan hilanglah kemurnian kepercayaan tentang ketauhidan  Allah. Karena Allah “qiyamuhu binafsihi” (berdiri  sendiri), jika tidak percaya satu sifatnya saja, maka di anggap syirik.
  • KUNCI MENYINGKAP HIJAB
Seperti yang telah kita ketahui, yang selalu mengajak orang berpaling dari Allah adalah nafsu yang ada di dalam diri, terutama nafsu ammarah dan lawwamah, ammarah yaitu bentuk” mubalaghoh” dari lafal “amir” yang artinya banyak perintah (buruk), sedangkan nafsu lawwamah artinya yang mencela. Nafsu, meski di satu sisi berfungsi menggairahkan hidup namun jika tidak di kendalikan dapat menyeret seseorang pada tipudaya kehidupan dunia, sebagaimana Syeh Ibn ‘Athoillah dalam kitabnya “Al-Hikam” mengibaratkan nafsu sebagai Api, apabila kita mampu mengontrol atau mengendalikan Api dengan baik, maka kita bias banyak mengambil manfaat darinya, untuk memasak, menyalakan rokok dan lain sebagainya. Akan tetapi, ketika kita tidak mampu mengontrol atau mengendalikan Api, maka akibatnya  akan sangat berbahaya, kebakaran rumah, hutan dan lain sebagainya.

Untuk itu di butuhkan kemampuan untuk mengendalikan nafsu agar  tidak terhalang  dalam memandang Allah, karena ketika nafsu tidak mampulagi di kendalikan, maka nafsu tersebut  akan menguasai diri sepenuhnya, bahkan dapat menjadi tuhan selain Allah, inilah salah satu cara untuk menyingkap hijab dengan jalan mengendalikan nafsu. Orang yang sudah mampu mengendalikan hawanafsunya, akan memiliki pandangan yang jernih dalam menatap wujud Allah, orang-orang seperti itulah yang akan dapat menikmati keindahan surga, yaitu terbukanya hijab atau tirai Ilahi.

Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa untuk menyibak hijab yang paling   utama adalah kemampuan mengendalikan nafsu yaitu nafsu yang selalu mengajak ingkar kepada Allah, nafsu yang membenamkan seseorang pada kenikmatan hidup secara syahwati, nafsu yang memalingkan pandangan kepada selain Allah. Maka dari itu, semoga kita termasuk orang yang berhasil mengendalikan nafsu dan menyingkap hijab, apabila hijab telah berhasil di singkap, maka cahaya ketuhanan (anwarul ilahiyah) akan menerangi hatinya sehingga segala rahasia ketuhanan akan terbuka melalui penglihatan mata hatinya (bashiratul qalb). RS/Shofian.
*Radar Syari'ah Edisi 52 
(Rabu, 30 Maret 2016)
0 Komentar untuk "Menyingkap Tirai Illahi"

Back To Top