Mengintip Kembali Ramadhan

 Oleh : Iga Kurniawan



Dalam al-Quran jika diamati kembali bahwa ayat yang menerangkan tentang kewajiban berpuasa secara jelas hanyalah ayat 183 surat al-Baqarah. Yang artinya sebagai berikut

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian”.

Perhatikan sejenak terjemah tersebut. Minimal ada empat hal yang dapat disimpulkan dari terjemah ayat di atas.


Pertama, nilai psikologis (psicological value)

 

Allah SWT menggunakan predikat khusus dalam pemanggilan hambanya. Hamba yang dimaksud di atas adalah orang-orang yang beriman. Seirang hamba yang benar-benar diharapkan untuk mengerti perasaan Tuhannya yang sangat mencintainya. Dalam redaksi ayat yang asli, Allah menggunakan lafal nida (panggilan) yang tidak biasa digunakan oleh orang Arab pada umumnya. Di situ, Allah menggunakan lafal        يا ايها . dalam sebuah tafsir menjelaskan bahwa panggilan tersebut bermakna panggilan dari orang yang sangat memiliki rasa belas kasihan yang luar biasa untuk memanggil orang yang sangat disayangi. Jika diungkapkan dalam bahasa kita kira-kira akan berbunyi “wahai anak bagus, wahai anak soleh, wahai yang ku sayang dan sebagianya”. Berbeda dengan panggilan yang pada umumnya seperti “wahai kamu, wahai kawan dan sebagainya”. Sehingga sangat cocok jika setelah lafal  يا ايها dilanjutkan dengan lafal  اامنو الذين . akhirnya makna yang keluar adalah kira-kira sebagai berikut “wahai orang-orang beriman yang sangat aku sayangi dan aku rindukan”.

Kedua, nilai hukum (law value). 


Kalimat yang muncul setelah itu adalah الصيام عليكم كتب. Arti dari lafal tersebut adalah “diwajibkan berpuasa atas kalian (wahai orang-orang yang beriman)”. Sebagaimana yang disebutkan di atas bahwa ayat ini, meskipun hanya satu-satunya di dalam al-Quran sudah cukup memberikan legalitas hukum kuat bermakna wajib. Justru jika diingat-ingat kembali ayat yang menerangkan terntang perintah makan lebih banyak dalam al-Quran. Akan tetapi perintah tersebut tidak bermakna wajib. Karena hukum asal makan adalah mubah.

Ketiga, nilai sejarah (historical value).


Setelah Allah memanggil hambanya yang beriman dan memberi pembebanan berpuasa, Dia menjelaskan bahwa sebenarnya kewajiban puasa sudah pernah dijalankan oleh umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW. Penjelasan tersebut terkandung dalam lafal    .كما كتب على الذين من قبلكم Kita mungkin pernah mendengar istilah puasa Daud. Puasa yang pernah dijalankan oleh Nabi Daud dan kaumnya. Puasa tersebut dijalankan mereka secara berselingan, sehari puasa dan sehari tidak. Kita juga pernah mengingat puasanya Ibu Muryam yang sedikit aneh. Beliau berpuasa dengan tidak berbicara pada hari saat melahirkan Nabi Isa. Dengan demikian ibadah puasa bukanlah ibadah yang baru saja ada. Lain halnya dengan salat lima waktu yang baru saja diperintahkan dan dirumuskan pasca isro dan mi’roj Nabi Muhammad SAW. Sehingga salat lima waktu menjadi ibadah khas Ummat Nabi Muhammad.

Keempat, nilai spiritual (spiritual velue).


Dalam lafal selanjutnya Allah berfirman تتقون لعلكم. Ini menjadi tujuan berpuasa secara esensi. Dengan demikian berpuasa dengan niat menjalankan perintah Allah supaya menambah ketaqwaan kita sebagai manusia yang beriman.
Esensi Berpuasa

Tujuan berpuasa yang dipaparkan di atas sepantasnya menjadi target utama dalam menjalankan puasa. Ketakwaan -sebagaimana yang Allah katakan- adalah pakaian dan bekal yang paling baik bagi orang yang beriman. Iman dalam konteks ini menjadi spirit yang melandasi semua aktifitas manusia dalam menjalankan kodratnya sebagai makhluk Tuhan. Iman dan takwa yang sudah tertanam kuat dalam pribadi seorang hamba dengan sendirinya akan terefleksikan dalam kehidupannya, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Baik hubungannya dengan Tuhan dan hubungannya dengan sesama makhluk. 

Kembali sejenak pada sejarah puasa bahwa ada salah seorang guru yang bercerita. Dahulu kala saat Allah menciptakan akal dan nafsu di alam azali, Allah menanyai keduanya dengan pertanyaan yang sama. “siapakah aku dan siapakah engkau?”. Dengan rendah hati akal menjawab “Engkau Tuhanku dan Aku Hambamu”.  Namun berbeda dengan nafsu. Dengan sombongnya Ia menjawab “Aku ya aku, kamu ya kamu”. Mendengar jawaban itu, Allah memenjarakannya dalam ruangan bersuhu bagaikan neraka selama 1000 tahun. Setelah itu, Ia diangkat dan beri pertanyaan yang sama. Namun jawaban masih tetap sama. “Aku ya aku, kamu ya kamu”. Mendengar jawaban yang sama Allah memenjarakannya untuk yang kedua kali. Kali ini penjara yang dihuni adalah penjara bersuhu sangat dingin selama 1000 tahun. Setelah itu, Ia dibebaskan dan diberi pertanyaan yang sama. Akan tetapi jawaban yang keluar juga tidak berbeda. “Aku ya aku, kamu ya kamu”. Untuk yang ketiga kalinya Allah memenjaraknnya di tempat yang tidak ada makanan dan minuman sama sekali selama 1000 tahun. Setelah selesai, Ia dilepaskan. Kali ini pemandangan agak berbeda. Nafsu terlihat kurus kering dan tak berdaya. Dalam kondisi seperti itu, Allah memberinya pertanyaan yang sama. Dengan suara yang lirih Ia baru mengakuai kekuasaan  Allah. Ia menjawab “Aku hambamu dan engkau Tuhanku”. Dari peristiwa itu Allah mewajibkan kepada hambanya berpuasa agar dapat mengendalikan nafsunya. Karena nafsu hanya bisa melemah jika seseorang dalam kondisi lapar.

Hal ini sekaligus mengingatkan kita akan bahayanya tipu daya nafsu. Semua terlihat indah dan menyenangkan. Padahal tidak semuanya hal yang menyenangkan itu baik pada akhirnya. Kita bisa melihat banyak oranag-orang yang saat ini dikuasai oleh nafsu. Terjadinya kasus pemerkosaan hingga korban meninggal,  perampokan, perselingkuhan dan lain-lain. Bahkan yang tidak kalah mengerikannya adalah nafsu kekuasaan yang pada akhirnya harus merelakan rasa persaudaraannya hanya karena berebut kekuasaan.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya moment Ramadhan kali ini bisa menjadi saat yang tepat untuk setiap manusia terutama kaum muslim agar bisa menjinakkan nafsunya dan mencapai derajat taqwa yang lebih tinggi seperti yang dicita-citakan Allah SWT.

Berpuasa layaknya ulat, bukan ular. Jika ular berpuasa sebelum berganti kulit, akan tetapi setelah ganti kulit Ia tetap saja ular. Tetap melata, tetap karnifora dan tetap ganas. Berbeda dengan ulat. Ia berhasil memanfaatkan ritual puasanya dalam kepomong untuk berproses menjadi lebih baik. Semela ia makan daun dan merusak tanaman, setelah berpuasa ia makan sari bunga. Semula Ia berbentuk jijik dan melata, setelah puasa Ia berbentuk indah dan terbang di udara. Semula Ia bernama ulat, setelah puasa ia bernama kupu-kupu dan dicintai banyak orang.
0 Komentar untuk "Mengintip Kembali Ramadhan"

Back To Top